LABAMU Dorong Digitalisasi Industri Furnitur di IFEX 2026

Solusi digital LABAMU hadir membantu pelaku usaha furnitur mengelola operasional bisnis secara terintegrasi dan efisien.

Matamediaonline.com – Pameran furnitur internasional Indonesia International Furniture Expo 2026 kembali digelar pada 5–8 Maret 2026 di Indonesia Convention Exhibition BSD City. Ajang ini mempertemukan produsen, desainer, eksportir, hingga pembeli internasional dalam satu platform bisnis yang mendorong pertumbuhan industri furnitur nasional.

Di ajang tersebut, Labamu Sejahtera Indonesia turut berpartisipasi dengan memperkenalkan solusi digital yang dirancang untuk membantu pelaku usaha furnitur mengelola operasional bisnis secara lebih efisien.

pada pameran IFEX 2026 di ICE BSD, Tangerang.
Reynold Sihotang (kiri) bersama top managemen LABAMU di Ajang IFEX 2026 di ICE BSD City.

Direktur/CRCO LABAMU, Reynold Sihotang, mengatakan pihaknya telah menjalin kerja sama dengan Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) untuk mendukung digitalisasi pelaku industri furnitur.

“Banyak pelaku usaha manufaktur furnitur yang masih menjalankan proses bisnis secara manual. Mulai dari pencatatan pesanan, manajemen inventori hingga komunikasi dengan pelanggan masih menggunakan WhatsApp,” ujar Rey di sela pameran IFEX 2026 bersama matamediaonline.com. Jumat (6/3)

Menurutnya, sistem manual tersebut berpotensi menghambat efisiensi bisnis, terutama ketika pelaku usaha ingin memperluas pasar hingga ekspor.

LABAMU menghadirkan solusi digital yang mengintegrasikan berbagai kebutuhan operasional usaha dalam satu aplikasi, mulai dari sistem pemesanan, pencatatan keuangan, manajemen bahan baku, hingga proses pengiriman.

Baca juga: Pameran IFEX 2026 Perkuat Posisi Furnitur Indonesia di Pasar Global, Bidik Ekspor USD 6 Miliar

Aplikasi tersebut dapat diakses melalui smartphone maupun desktop sehingga memudahkan pelaku usaha memantau operasional bisnis secara real-time.

Bantu UMKM Furnitur Naik Kelas

Reynold menjelaskan, pihaknya telah melakukan roadshow ke sejumlah sentra industri furnitur seperti Solo, Jepara, Yogyakarta, dan Surabaya untuk berdialog langsung dengan para pelaku usaha.

Baca juga: Designer Showcase Perkuat Posisi IFEX 2026 sebagai Pameran Furnitur Terbesar di Asia

Dari hasil pertemuan tersebut, LABAMU menerima berbagai masukan terkait kebutuhan digitalisasi proses produksi dan manajemen usaha.

Baca juga: Ramadan 2026 Jadi Momentum Brand Lokal Bersinar di Jagat Aroma x Social Pavilion

“Kami ingin membantu pelaku usaha furnitur, baik skala kecil, menengah, dan besar agar bisa naik kelas dan siap menembus pasar ekspor,” katanya.

Menurut Reynold, digitalisasi menjadi langkah penting agar pelaku usaha mampu memenuhi standar bisnis global.

Potensi Pasar Furnitur Global

Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia, Abdul Sobur, sebelumnya menyampaikan optimisme bahwa industri furnitur Indonesia masih memiliki prospek pertumbuhan yang kuat.

Ia menargetkan nilai ekspor furnitur Indonesia dapat mencapai 6 miliar dolar AS dalam lima tahun ke depan.

Menurut Reynold, potensi ekspor furnitur Indonesia juga cukup besar, terutama untuk produk berbahan rotan yang memiliki permintaan tinggi di pasar internasional seperti India dan Inggris.

“Kalau ingin ekspor ke luar negeri, tentu sistemnya tidak bisa lagi manual. Harus ada sistem yang terintegrasi agar proses bisnis lebih efisien dan profesional,” ujarnya.

Ia berharap kehadiran LABAMU dapat membantu pelaku industri furnitur meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat daya saing di pasar global.

Penulis: David Nainggolan

Editor: David Nainggolan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *