Film Hasut Tawarkan Horor Tanpa Penampakan, Suara HT Jadi Sumber Teror

Film Hasut akan tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026.

JAKARTAMatamediaonline.com| Film horor tak selalu membutuhkan sosok menyeramkan atau penampakan makhluk gaib untuk membuat penonton ketakutan. Hal itu coba dibuktikan Hasut, film horor-misteri terbaru produksi Tuta Films yang menjadikan suara misterius dari handy talkie (HT) sebagai sumber teror.

Disutradarai sekaligus ditulis oleh Ilya Sigma, film Hasut mengajak penonton mengikuti perjalanan empat sahabat yang terjebak dalam situasi penuh kecurigaan saat berada di sebuah hutan.

Film ini mengeksplorasi rasa takut, trauma, paranoia, hingga persoalan kepercayaan melalui suara-suara misterius yang muncul dari HT mereka.

Pertanyaan pun mulai muncul: siapa yang berada di balik suara tersebut dan siapa yang sebenarnya bisa dipercaya?

Alih-alih mengandalkan penampakan, Hasut membangun ketegangan melalui suara yang semakin manipulatif. Suara tersebut perlahan memengaruhi pikiran keempat karakter hingga membuat mereka saling curiga dan mempertanyakan orang terdekat.

Baca juga: Debut Sutradara Ilya Sigma, Film Horor Hasut Siap Bikin Penonton Meragukan Kenyataan

Empat pemeran utama, Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova, menjadi pusat cerita. Keempatnya memerankan sahabat yang masing-masing datang dengan luka dan trauma masa lalu.

Situasi berubah ketika suara misterius seolah mengambil alih HT yang mereka gunakan dan mulai menghasut mereka untuk tidak saling percaya.

Kecurigaan pun berkembang menjadi konflik. Keempat sahabat tersebut perlahan kehilangan kendali hingga mulai saling melukai.

Baca juga: Film Memburu Pemangsa Gandeng .Feast dan Efek Rumah Kaca, Tiket Konser Didonasikan untuk Kasus Kekerasan Anak

“Film Hasut berbicara tentang sebuah rasa curiga dan kepercayaan. Dengan elemen suara yang menjadi kekuatan film ini, Hasut menjadi horor yang datang bukan dari makhluk yang tak terlihat, tapi dari keraguan terhadap diri sendiri dan orang terdekat,” ujar Ilya Sigma, penulis sekaligus sutradara Hasut.

Ilya Sigma menggarap Hasut bersama penulis Priesnanda Dwisatria. Film ini diproduseri Putrama Tuta dan Siera Tamihardja, dengan Nick Musa dan Randi Wibawa sebagai ko-produser.

Menurut produser Siera Tamihardja, Hasut dirancang untuk membuat penonton mempertanyakan kembali sesuatu yang selama ini mereka yakini.

Baca juga: Enzy Storia, Afgan hingga 7 Komika Perempuan Siap Bikin Ngakak Lewat Film Agensi Rumah Tangga

“Setelah menonton film Hasut, akan membuat penonton mempertanyakan hal-hal yang selama ini kita kira sudah kita yakini. Seperti perjalanan empat karakter sahabat di film ini, penonton akan terus dihadapkan pada situasi yang membuat mereka bertanya, siapa yang sebenarnya bisa dipercaya?” ujarnya.

Rachel Amanda menyebut Hasut menjadi tantangan tersendiri karena sebagian besar proses cerita berlangsung di hutan dengan hanya empat pemeran utama.

Bagi Rachel, keterbatasan ruang dan jumlah karakter justru membuat kekuatan akting menjadi sangat penting untuk membangun teror psikologis.

“Menonton film Hasut akan membawa kita pada sebuah perasaan tegang, terteror secara psikologis, dan refleksi tentang sebuah relasi terhadap orang terdekat kita,” ujar Rachel Amanda.

Ia menambahkan, suasana hutan dalam film turut membuka sisi lain dari karakter yang selama ini mungkin mereka sembunyikan.

“Berada di hutan, alam, membuat kita bisa terbuka sisi-sisi yang mungkin selama ini kita tutupi, dan memperlihatkan tentang apakah kita adalah orang yang selama ini menghasut, atau yang dihasut?” katanya.

Karina Salim juga menyoroti hubungan emosional antarkarakter dalam Hasut. Dalam film tersebut, ia dan Rachel Amanda berperan sebagai kakak-adik yang sama-sama memiliki trauma masa lalu.

Menurut Karina, salah satu adegan emosional dalam film terjadi ketika kedua karakter akhirnya berusaha membicarakan luka yang selama ini mereka pendam.

“Buat aku salah satu adegan paling emosional adalah saat bersama Rachel Amanda, yang cukup menguras emosi. Karena kami berdua di sini adalah kakak-adik, yang memiliki trauma di masa lalu, dan di hutan inilah, keduanya mencoba membicarakannya untuk pertama kalinya,” ujar Karina.

Luka masa lalu tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan karakter mereka menghadapi teror yang semakin sulit dibedakan antara kenyataan dan manipulasi suara.

Pada akhirnya, Hasut membawa penonton pada satu pertanyaan: ketika semua orang terlihat bisa dipercaya, tetapi suara yang terdengar mengatakan sebaliknya, siapa yang akan dipilih untuk dipercaya?

Perkembangan terbaru mengenai film ini dapat diikuti melalui akun Instagram @filmhasut dan @tutafilms.

Exit mobile version