Matamediaonline.com – Tidak semua hobi masa kecil bertahan hingga dewasa. Namun bagi dr. Zuhria Novianty, Sp.S.P kecintaan terhadap keterampilan tangan justru menjadi ruang kembali untuk menemukan keseimbangan hidup.
Sebagai seorang dokter spesialis sekaligus istri perwira TNI, kehidupan Zuhria berjalan dalam ritme yang padat. Ia juga aktif dalam Persit Kartika Chandra Kirana Cabang I Sintelad PG Mabesad, mendampingi sang suami, Letkol Inf Benu Supriyantoko.
Namun di balik kesibukan itu, tersimpan sebuah cerita sederhana yang berawal sejak masa kecil: kecintaan pada dunia kerajinan tangan.
Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Zuhria telah akrab dengan berbagai aktivitas kreatif. Lingkungan keluarga yang gemar berkarya membuatnya terbiasa mencoba beragam keterampilan, mulai dari membuat kantong kertas, menjahit, hingga merajut.
Di masa itu, keterbatasan referensi tidak menjadi penghalang. Justru dari keterbatasan tersebut, lahir semangat untuk terus bereksperimen dan belajar secara mandiri.
Memasuki masa kuliah, ketertarikan pada dunia kreatif sempat menjadi pilihan. Namun, kondisi dan pertimbangan keluarga membawanya ke jalur yang berbeda: dunia kedokteran.
Keputusan tersebut menuntunnya pada profesi yang menuntut dedikasi tinggi—melayani masyarakat sebagai tenaga medis.
Seiring waktu, perannya bertambah: dokter, istri, ibu, sekaligus anggota organisasi. Rutinitas yang padat membuat ruang untuk menyalurkan hobi perlahan menyempit.
Setelah menyelesaikan pendidikan spesialis, Zuhria perlahan menemukan kembali waktu untuk dirinya sendiri.
Baca juga: Be El Be, Inovasi Istri Prajurit Lestarikan Seni Ukir Nusantara
Merajut menjadi titik awal. Aktivitas yang sederhana, fleksibel, dan bisa dilakukan di sela-sela kesibukan ini kembali membuka ruang kreativitas yang sempat tertunda.
Ia bisa merajut sambil bersantai, berbincang, bahkan saat menemani anaknya.
Baca juga: Pragosa Bag, Tas Rajut Karya Persit Yonkav 7, Berkembang Jadi Produk Bernilai Ekonomi
Bagi Zuhria, merajut bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang.
Di balik setiap helai benang yang dirangkai, ada proses yang menghadirkan ketenangan dan kepuasan batin. Dari sesuatu yang sederhana, lahir karya yang memiliki nilai dan makna.
Merajut menjadi cara untuk “berhenti sejenak” dari hiruk-pikuk aktivitas, sekaligus menjadi ruang refleksi diri.
Kisah Zuhria menunjukkan bahwa di tengah tuntutan profesi dan kehidupan keluarga, setiap orang tetap membutuhkan ruang untuk dirinya sendiri.
Hobi bukan sekadar pelengkap, tetapi bisa menjadi penyeimbang—bahkan sumber energi baru untuk menjalani peran sehari-hari.
Dan bagi Zuhria, benang-benang yang dirajut itu bukan hanya menjadi karya, tetapi juga menjadi cara untuk tetap terhubung dengan dirinya sendiri.












