Matamediaonline.com – Perkumpulan Keluarga Kabupaten Tegal Slawi Ayu (PKKT-SA) Jabodetabek memanfaatkan momentum halal bihalal sebagai lebih dari sekadar ajang silaturahmi. Di tengah suasana kekeluargaan di Grand Ballroom, Pusbekangad, Kramat Jati, Jakarta Timur. Minggu (19/4/2026), organisasi ini justru mendorong agenda yang lebih strategis: kebangkitan wisata unggulan Kabupaten Tegal, khususnya kawasan air panas Guci.
Dalam sambutannya Bupati Kabupaten Tegal, H. Ischak Maulana, SH.,MM didampingi Wabup Ahmad Kholid menegaskan bahwa promosi wisata tidak bisa lagi dilakukan secara biasa. Dibutuhkan pendekatan terpadu—mulai dari branding, kuliner, hingga penguatan infrastruktur.
Baca juga: 42 Hari Jelang Pertandingan, Panitia Pastikan Kesiapan Teknis Pattimura Big Fight 2026 Optimal
“Kami melihat potensi besar Guci. Ini bukan hanya wisata lokal, tapi bisa menjadi destinasi nasional. Promosi harus diperkuat, termasuk wisata kuliner sebagai daya tarik tambahan,” ujar Ischak.
Kawasan Pemandian Air Panas Guci disebut memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak destinasi serupa di Indonesia. Selain kandungan mineral alami, air panas di Guci dinilai lebih nyaman digunakan tanpa bau menyengat, bahkan untuk durasi berendam yang lebih lama.
“Airnya hangat alami, tidak berbau, dan nyaman. Ini keunggulan yang harus kita jual ke publik,” lanjutnya.
Namun, di balik potensi tersebut, tantangan klasik masih membayangi—akses jalan, fasilitas pendukung, hingga keamanan kawasan wisata. Pemerintah daerah pun mengakui hal itu dan mulai melakukan percepatan pembenahan.
Sejumlah langkah strategis tengah disiapkan, mulai dari pembangunan infrastruktur jalan, penataan kawasan, hingga pengembangan konsep medical wellness tourism berbasis pemandian air panas. Program ini diyakini bisa menjadi pembeda Guci dibanding destinasi lain.
Wakil Bupati Ahmad Kholid menambahkan bahwa kolaborasi lintas sektor, termasuk komunitas diaspora seperti PKKT, menjadi kunci percepatan promosi.
“Peran warga Tegal di perantauan sangat penting. Mereka bisa menjadi duta promosi daerah,” ujarnya.
Momentum halal bihalal ini pun berubah menjadi ruang konsolidasi—menghubungkan pemerintah, masyarakat, dan komunitas diaspora dalam satu misi: mengangkat Guci sebagai ikon wisata baru.
Jika strategi ini berjalan konsisten, Guci bukan hanya akan dikenal sebagai destinasi lokal, tetapi berpotensi menjadi magnet wisata nasional yang mampu menggerakkan ekonomi daerah secara signifikan.
Autentikasi: David Ngl












