JAKARTA — Matamediaonline.com| Ketua Umum DPP Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sujahri Somar mengajak seluruh elemen bangsa memperkuat semangat “Jaga Indonesia”. Ajakan itu disampaikan saat menghadiri sekaligus memberikan sambutan dalam forum Obrolan Teras 13 yang mengangkat tema “Evaluasi 2 Tahun Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.”
Dalam forum tersebut, Sujahri menyoroti dua persoalan yang dinilainya perlu mendapat perhatian serius pemerintah, yakni kesiapan negara menghadapi bencana serta potensi disintegrasi bangsa.
Menurut Sujahri, kedua persoalan tersebut berkaitan erat dengan kemampuan negara menghadirkan perlindungan, keadilan, dan rasa aman bagi masyarakat.
Ia menyoroti penanganan gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) serta ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. Menurutnya, penanganan bencana tidak boleh hanya bersifat reaktif setelah bencana terjadi.
“Negara tidak boleh hanya hadir setelah bencana terjadi. Negara harus hadir sebelum bencana itu datang, melalui mitigasi yang kuat, kesiapan yang matang, dan kebijakan yang mampu melindungi rakyat serta ruang hidupnya,” kata Sujahri.
Baca juga: 81 Tahun Indonesia Merdeka, GMNI Jakarta Timur Dorong Evaluasi Total Pemerintahan Prabowo-Gibran
Di sisi lain, Sujahri mengapresiasi rencana pemerintah menaikkan anggaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjadi sekitar Rp1,003 triliun dalam RAPBN 2027.
Menurutnya, peningkatan alokasi anggaran tersebut merupakan sinyal positif untuk memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan bencana secara nasional.
“Kami mengapresiasi langkah pemerintah yang menaikkan anggaran BNPB hingga menembus angka Rp1,003 triliun pada RAPBN 2027. Ini adalah komitmen nyata yang memang kita tunggu agar penguatan mitigasi, kesiapsiagaan di daerah, perlindungan lingkungan, serta sarana tanggap bencana dapat berjalan secara optimal dan merata,” tegasnya.
Selain persoalan bencana, Sujahri mengingatkan pemerintah agar serius membaca berbagai dinamika sosial dan politik di sejumlah wilayah, termasuk Maluku, Papua, Aceh, dan Kalimantan.
Baca juga: PJR BSD Korlantas Polri Siaga 110, Pengendara Diimbau Tak Berhenti di Bahu Tol
Ia menilai persoalan disintegrasi tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi dapat dipengaruhi oleh rasa ketidakadilan, pembangunan yang tidak merata, serta minimnya ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi.
“Persoalan disintegrasi tidak muncul dari ruang hampa. Ketika masyarakat merasa jauh dari keadilan, ketika pembangunan tidak dirasakan secara merata, dan ketika suara rakyat tidak didengar, maka di situlah negara harus hadir untuk melakukan koreksi,” tegasnya.
Menurut Sujahri, menjaga keutuhan Indonesia tidak cukup dilakukan dengan sekadar menyerukan persatuan. Persatuan, kata dia, harus dibangun melalui keadilan sosial dan kehadiran negara yang nyata di tengah masyarakat.
Karena itu, ia menilai semangat Jaga Indonesia harus ditempatkan sebagai agenda bersama, bukan sekadar slogan.
“Jaga Indonesia bukan hanya menjaga batas wilayah dan keutuhan teritorial, tetapi juga menjaga rasa keadilan, menjaga kepercayaan rakyat, dan memastikan tidak ada daerah maupun kelompok masyarakat yang merasa ditinggalkan oleh negara. Kalau itu kita jaga, maka persatuan Indonesia juga akan semakin kuat,” ujar Sujahri.
Ia pun mendorong pemerintah melakukan apa yang disebutnya sebagai “belanja masalah”, yakni turun langsung ke berbagai daerah untuk mendengar persoalan masyarakat dan menjawabnya melalui kebijakan yang berkeadilan.
“Jangan hanya melihat Indonesia dari Jakarta. Datangi rakyat di Maluku, Papua, Aceh, Kalimantan, NTT, dan seluruh daerah lainnya. Dengarkan persoalan mereka dan jawab dengan kebijakan yang berkeadilan,” ujarnya.
Sujahri kembali mengajak seluruh elemen bangsa menjaga Indonesia dengan memastikan rakyat terlindungi dari bencana, lingkungan tetap terjaga, serta tidak ada masyarakat yang merasa ditinggalkan oleh negara.
Menurutnya, upaya tersebut menjadi bagian penting untuk mencegah berkembangnya kekecewaan sosial yang berpotensi mengganggu persatuan dan keutuhan bangsa.
Sementara itu, Penanggung Jawab Obrolan Teras 13, Sudi Simarmata, mengatakan forum tersebut menjadi ruang refleksi untuk mendorong evaluasi sekaligus melahirkan gagasan konstruktif terhadap berbagai persoalan kebangsaan.
Menurut Sudi, penguatan mitigasi bencana, keadilan sosial, dan dialog antardaerah menjadi bagian penting dalam menjaga persatuan serta menghadapi berbagai tantangan Indonesia ke depan.










