JAKARTA — Matamediaonline.com| Dentuman pukulan, keringat, dan rasa sakit menjadi bagian dari keseharian Nasip Siringoringo. Namun, bagi petinju muda berusia 18 tahun asal Pulau Samosir, Sumatera Utara, ring bukan sekadar tempat bertarung.
Di atas ring, Nasip sedang memperjuangkan masa depan.
Petinju yang kini bernaung di Nelson Nainggolan Gym (NNG) itu membawa dua misi sekaligus: membangun karier sebagai petinju profesional dan menyelesaikan pendidikan yang selama ini dibiayainya sendiri.
Perjalanan Nasip menuju dunia tinju bermula sejak masih duduk di kelas 1 SD. Saat itu, ia kerap menemani sang ayah menyaksikan pertandingan tinju di televisi.

Dari sekadar menonton, muncul rasa penasaran. Nasip kemudian mulai mencoba berlatih secara otodidak dengan mengikuti berbagai tayangan latihan tinju di YouTube dari kampung halamannya.
Namun, impian itu sempat terhenti. Keterbatasan fasilitas dan minimnya komunitas tinju di daerah membuatnya kesulitan mengembangkan kemampuan.
Semangat tersebut kembali tumbuh ketika Nasip melihat perkembangan media sosial. Setelah menyelesaikan sekolah dan sempat bekerja di Lampung untuk mengumpulkan modal, ia mengambil keputusan besar: merantau ke Jakarta demi mengejar cita-citanya.
Berawal dari Pesan di Media Sosial
Di Jakarta, Nasip memberanikan diri menghubungi pelatih Boy Manullang melalui media sosial.
Keberanian itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan kariernya. Nasip kemudian menjalani latihan dan mulai memasuki kompetisi amatir.
Baca juga: Sukses Gelar Sabuk Emas Kapolri 2026, FTPI Siapkan Agenda Tinju Profesional Berikutnya
Dalam waktu sekitar satu tahun, ia mencatatkan hasil cukup impresif: enam kemenangan dari tujuh pertandingan amatir.
Performa tersebut membuka jalan bagi Nasip untuk melangkah ke jenjang profesional.
Bakat dan potensi yang dimilikinya kemudian menarik perhatian Nelson Nainggolan, pemilik sekaligus sosok penting di Nelson Nainggolan Gym. Sejak bergabung pada April, Nasip mendapatkan tempaan latihan dengan disiplin yang ketat.
Baca juga: David Nainggolan: Sukses Sabuk Emas Kapolri Jadi Modal FTPI Gelar Safari Tinju
Di NNG, tidak ada ruang untuk hidup sembarangan.
Nasip dilarang merokok, dilarang mengonsumsi minuman beralkohol, dan diwajibkan menjaga pola tidur serta kedisiplinan sehari-hari.
Bagi sebagian orang, aturan tersebut mungkin terasa berat. Namun Nasip justru melihatnya sebagai bagian dari proses untuk menjadi petinju yang lebih baik.
“Di tempat untuk jadi orang berhasil itu sudah pasti banyak tidak nyamannya. Ditempa itu pasti sakit, tapi kalau kita bertahan ditempa, kita pasti jadi tajam,” ujar Nasip saat diwawancarai matamediaonline.com. Kamis (8/10)
Tiga Laga Profesional, Belum Terkalahkan
Kerja keras tersebut mulai menunjukkan hasil.
Nasip kini tercatat memiliki rekor profesional 3-0-0, atau tiga kemenangan tanpa kekalahan. Dalam klasemen BoxRec yang disebutnya, ia berada di peringkat kedua nasional di kelasnya.
Namun, prestasi di atas ring bukan satu-satunya hal yang ingin dikejar Nasip.
Di luar latihan dan pertandingan, ia juga menjalani kehidupan sebagai mahasiswa Pendidikan Agama/Teologi semester empat.
Yang menarik, biaya pendidikannya tidak ditanggung orang tua.
Nasip memilih membiayai sendiri kuliahnya dari hasil bertanding.
Hasil dari kemenangan pada laga profesional pertamanya digunakan untuk melunasi biaya kuliah. Sementara dari pertandingan keduanya, ia menyisihkan hasil jerih payahnya untuk membelikan sepeda motor matik berukuran besar bagi kedua orang tuanya di Samosir.
Bukan sekadar hadiah.
Motor tersebut diharapkan dapat membantu orang tuanya beraktivitas, termasuk pergi beribadah ke gereja dan menjalani mobilitas sehari-hari di tengah kondisi jalan kampung yang belum sepenuhnya baik.
Tinju untuk Masa Depan Keluarga
Sebagai anak bungsu, Nasip memahami kekhawatiran kedua orang tuanya.
Keduanya sebenarnya tidak menginginkan Nasip menjadi petinju. Kekhawatiran itu tentu beralasan. Dunia tinju identik dengan benturan fisik dan risiko cedera.
Namun, Nasip memilih jalan tersebut bukan semata-mata mengejar popularitas.
Ia ingin memiliki pegangan hidup ketika suatu hari kembali ke kampung halaman.
Karena itu, ia berusaha menjalankan dua perjuangan sekaligus: mengejar prestasi di ring dan menyelesaikan pendidikan.
Pesannya kepada kedua orang tua pun sederhana, tetapi penuh makna.
“Untuk Mama dan Papa, tenang saja. Yang penting doa kalian itu sudah besar buat aku. Walaupun kalian melarang aku main tinju, Tuhan tetap menjaga aku di atas ring.”
Nasip mengatakan keputusan menekuni tinju juga dilandasi keinginan agar kelak dapat berdiri di atas kaki sendiri.
“Aku mengambil jalan ini supaya punya pegangan saat pulang ke kampung nanti—punya ijazah S1 jurusan ilmu teologia Kristen dan prestasi—sehingga bisa menjaga dan tidak menyusahkan orang tua.”
Dari Samosir, Mengincar Asia hingga Dunia
Perjalanan Nasip masih panjang.
Rekor tiga kemenangan tanpa kekalahan menjadi modal awal untuk menatap tantangan yang lebih besar. Ia tidak ingin berhenti hanya pada prestasi nasional.
Targetnya sudah dipasang tinggi.
Nasip ingin mendapatkan kesempatan bertanding di level internasional dan membawa nama daerah, sasana, serta Indonesia ke panggung yang lebih luas.
“Harapan ke depan pastinya ingin jadi juara. Bawa nama daerah dan sasana. Target saya minimal bisa meraih Juara Asia terlebih dahulu, baru kemudian melangkah menuju Juara Dunia,” pungkasnya.
Dari sebuah pulau di tengah Danau Toba, Nasip kini menapaki jalan panjang di Jakarta.
Setiap pukulan yang diterimanya di atas ring menjadi bagian dari proses. Setiap keringat yang jatuh di sasana menjadi investasi masa depan.
Ia tidak hanya sedang mengejar kemenangan.
Ia sedang membangun alasan untuk suatu hari pulang ke Samosir dengan kepala tegak—membawa prestasi, membawa ijazah, dan membawa kehidupan yang lebih baik untuk keluarganya.













Respon (1)