Matamediaonline.com – Di balik gemuruh kemenangan dan kibaran Merah Putih di panggung dunia, tersimpan kisah sunyi para mantan atlet tinju Indonesia yang kerap luput dari perhatian.
Nama-nama besar seperti Ellyas Pical, Nico Thomas, Chris John, Muhammad Rachman, hingga Daud Yordan pernah mengharumkan nama bangsa di kancah dunia.
Di level amatir, Indonesia juga memiliki deretan petinju tangguh seperti Albert Papilaya dan Pino Bahari yang berprestasi di ajang internasional.
Namun pertanyaannya, bagaimana kehidupan mereka setelah pensiun?
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa tidak sedikit mantan petinju menghadapi kesulitan ekonomi. Minimnya jaminan masa depan, keterbatasan akses pekerjaan, serta kurangnya perhatian berkelanjutan membuat sebagian dari mereka terpinggirkan.
Ketua Ikatan Petinju dan Pelatih Profesional Indonesia (IPPEPIN), Yance Rahayaan, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi tersebut. Ia bahkan berupaya memberdayakan mantan petinju dengan memberikan pekerjaan di lingkungan kampus sebagai bentuk kepedulian nyata.
Fenomena ini mencerminkan persoalan sistemik dalam pembinaan olahraga nasional, khususnya dalam aspek kesejahteraan pasca-karier atlet.
Padahal, para petinju ini pernah menjadi representasi bangsa. Mereka mempertaruhkan fisik dan masa depan demi mengibarkan Merah Putih di arena dunia.
Baca juga: FTPI Tunjuk Tiga Tokoh Maluku, Marasal Hutabarat: Rekam Jejak Mereka Tak Diragukan
Ironisnya, setelah masa kejayaan berlalu, sebagian dari mereka harus berjuang sendiri menghadapi kerasnya kehidupan. Bahkan, terdapat kisah tragis di mana mantan atlet terjerumus dalam kemiskinan hingga mengalami peristiwa yang mengenaskan.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: sejauh mana peran negara dalam menjamin kesejahteraan mantan atlet?
Melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, pemerintah diharapkan tidak hanya fokus pada pencapaian prestasi, tetapi juga memastikan keberlanjutan kehidupan para atlet setelah pensiun.
Dukungan tersebut dapat berupa pelatihan keterampilan, akses pekerjaan, jaminan sosial, hingga program pemberdayaan ekonomi.
Sudah saatnya negara hadir lebih konkret. Karena menghargai atlet bukan hanya saat mereka menang, tetapi juga saat mereka selesai bertanding.
