30 Tahun Kudatuli, Megawati Soekarnoputri Resmikan Monumen untuk Kenang Perjuangan Demokrasi

JAKARTA – Matamediaonline.com| Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menghadiri peresmian Monumen Kudatuli di Kantor DPP PDI Perjuangan, Jalan Diponegoro Nomor 58, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (27/7/2026). Peresmian itu bertepatan dengan peringatan 30 tahun (27 Juli 1996 – 27 Juli 2026) Peristiwa Kudatuli yang menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia.

Acara tersebut dihadiri sejumlah pengurus DPP PDI-P. Tampak duduk di barisan depan antara lain Hasto Kristiyanto, Djarot Saiful Hidayat, Ribka Tjiptaning, Bonnie Triyana.

Megawati: Kudatuli Simbol Ketidakadilan, PDI Perjuangan Resmikan Monumen 27 Juli

Sementara sejumlah tokoh lainnya yang terlihat hadir antara lain Ganjar Pranowo, Tri Rismaharini, Ahmad Basarah, Andi Wijajanto, Yasonna Laoly. Hadir juga Gubernur DKI yang juga politikus PDI-P Pramono Anung dan tokoh publik lainnya Kaspudin Nor, tim pembela TPDI yang juga komisioner Kejaksaan RI periode 2011 – 2015

Monumen tersebut dibangun sebagai bentuk penghormatan kepada para pejuang demokrasi sekaligus pengingat agar praktik kekerasan atas nama negara tidak kembali terulang di Indonesia.

Peresmian Monumen menjadi bagian dari rangkaian peringatan tiga dekade peristiwa yang hingga kini masih dikenang sebagai salah satu momen penting menjelang lahirnya era Reformasi.

Kudatuli merupakan singkatan dari Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli 1996, yakni peristiwa penyerangan terhadap Kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Insiden tersebut dipicu oleh konflik kepemimpinan di tubuh PDI antara Megawati Soekarnoputri dan Soerjadi.

Baca juga: Muslim Tampubolon Resmi Nahkodai PBB Kota Bekasi, DPD PBB DKI: Jadilah Mitra Strategis Pemerintah dan Perekat Persatuan

Penyerangan itu mengakibatkan korban jiwa, luka-luka, serta kerusakan di sejumlah lokasi. Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu catatan penting dalam dinamika politik nasional yang mengarah pada bergulirnya Reformasi 1998.

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menegaskan bahwa Kudatuli tidak boleh dipandang hanya sebagai bagian dari sejarah masa lalu.

Baca juga: Irjen Johnny Isir: Pusat Studi Kepolisian Jadi Fondasi Transformasi Polri Berbasis Ilmu Pengetahuan

Menurut Megawati, peristiwa tersebut merupakan simbol perjuangan melawan ketidakadilan yang harus terus diingat, terutama oleh generasi muda.

“Kudatuli adalah simbol ketidakadilan,” ujar Megawati.

Ia mengatakan, esensi utama dari Peristiwa Kudatuli adalah manifestasi dari ketidakadilan struktural yang terjadi pada masa itu. Karena itu, nilai-nilai perjuangan yang lahir dari peristiwa tersebut dinilai tetap relevan sebagai pengingat pentingnya menjaga demokrasi, supremasi hukum, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Melalui pembangunan Monumen Kudatuli, PDI Perjuangan berharap memori kolektif mengenai perjuangan demokrasi tetap terpelihara. Monumen itu juga diharapkan menjadi ruang refleksi bagi masyarakat agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi di masa depan.

Peresmian monumen tersebut sekaligus menjadi penanda 30 tahun perjalanan sejak Peristiwa Kudatuli, yang hingga kini masih dikenang sebagai salah satu titik balik dalam sejarah demokrasi Indonesia.

Exit mobile version