Di Balik Kehadiran Ellyas Pical di Sabuk Emas Kapolri 2026, Ada Cerita Kecewa Soal Koordinasi Panitia

JAKARTA – Matamediaonline.com| Kehadiran legenda tinju Indonesia, Ellyas Pical, dalam gelaran Sabuk Emas Kapolri 2026 di Auditorium LPP TVRI, Jakarta, Jumat (11/9/2026), menyisakan cerita tersendiri.

Ellyas Pical datang dalam kondisi kesehatan yang terbatas dan menggunakan kursi roda. Namun, semangat mantan juara dunia tinju asal Indonesia itu untuk tetap hadir dan memberikan dukungan terhadap perkembangan tinju profesional Tanah Air disebut menjadi alasan utama dirinya tetap datang ke lokasi acara.

Kepada MataMediaOnline.com, Senin (14/9/2026), istri Ellyas Pical, Drg. Rina Siahaya Pical, mengungkapkan kronologi kedatangan mereka sekaligus meluruskan persoalan yang terjadi di lokasi.

Rina menegaskan, sejak awal dirinya sudah berusaha berkomunikasi dengan panitia yang menjadi penghubung, yakni Syarifuddin Lado. Komunikasi itu dilakukan karena dirinya membutuhkan bantuan sejumlah orang untuk mengangkat Ellyas Pical dari kursi roda menuju area studio.

“Waktu saya sudah sampai di lokasi, saya menghubungi Pak Lado. Saya butuh orang-orang untuk membantu mengangkat Pak Eli karena di situ ada tangga yang cukup tinggi. Kursi rodanya tidak bisa masuk begitu saja, harus dibantu beberapa orang,” ujar Rina.

Menurut Rina, dirinya bersama Ellyas Pical tiba di lokasi sekitar pukul 08.30 WIB. Saat itu, ia terlebih dahulu memastikan kondisi di sekitar lokasi sebelum membawa Ellyas masuk.

“Saya sudah sampai di lokasi, saya hubungi Pak Lado dulu. Tapi waktu saya hubungi, dia bilang katanya di situ nggak ada orang,” tuturnya.

Rina kemudian menghubungi Yance Rahayaan yang disebutnya sebagai co-promotor. Kepada Yance, Rina menyampaikan bahwa dirinya sudah berada di lokasi.

“Saya telepon Pak Yance. Dia tanya sudah di mana, saya bilang sudah di lokasi. Terus dia bilang, ‘oh ya sudah, masuk saja’,” katanya.

Rina lantas meminta anaknya terlebih dahulu masuk untuk melihat apakah ada orang yang dapat membantu. Namun, menurut Rina, anaknya kembali dan mengatakan belum menemukan orang yang bisa dimintai bantuan.

Baca juga: Sukses Gelar Sabuk Emas Kapolri 2026, FTPI Siapkan Agenda Tinju Profesional Berikutnya

Karena kondisi tersebut, Rina kemudian turun dari kendaraan dan masuk untuk mencari tahu situasi. Ia mengaku sempat melihat kondisi lokasi yang menurutnya masih sepi.

“Saya lihat di dalam sepi. Yang duduk di panggung VVIP waktu itu cuma Bu Neneng A Tuty. Saya pikir, kok acaranya seperti ini, ya?” ujarnya.

Baca juga: Ketum PLPPBI Hendra Digjaya Apresiasi Sabuk Emas Kapolri 2026, Siap Fasilitasi Talenta Tinju di Daerah

Belakangan Rina mengetahui bahwa sejumlah tamu dan panitia berada di ruangan transit. Informasi tersebut, menurutnya, tidak diketahuinya ketika pertama tiba di lokasi.

“Nah, justru itu yang saya nggak tahu. Padahal ketika Pak Ely datang, mungkin diarahkan ke ruangan transit dulu. Kita kan nggak tahu. Itu yang saya rasa kurang komunikasi dari Pak Lado,” katanya.

Baca juga: David Nainggolan: Sukses Sabuk Emas Kapolri Jadi Modal FTPI Gelar Safari Tinju

Situasi tersebut membuat Rina sempat mempertimbangkan untuk meninggalkan lokasi bersama Ellyas Pical. Terlebih, ia mendapat informasi bahwa Kapolri tidak dapat hadir secara langsung karena adanya tugas mendadak dan kehadirannya diwakili.

“Ya sudah, kalau begitu kita pulang saja. Saya bilang ke Pak Yance, pulang saja. Lagipula Pak Kapolri nggak ada, tamu-tamu juga belum kelihatan,” tutur Rina.

Menurut Rina, dirinya tidak mempermasalahkan apakah Ellyas Pical disambut secara khusus atau tidak. Yang menjadi persoalan adalah kebutuhan mendasar karena kondisi Ellyas yang memang membutuhkan bantuan untuk masuk ke area acara.

“Kalau dia masih bisa jalan, kita nggak peduli mau disambut atau enggak. Kita langsung masuk saja. Tapi karena kondisi Bang Elyas Pical seperti sekarang, menggunakan kursi roda, memang perlu beberapa orang untuk membantu mengangkatnya,” jelas Rina.

Ia juga membandingkan pengalaman tersebut dengan kehadiran Ellyas Pical dalam acara Sabuk Emas Pattimura sebelumnya.

Menurut Rina, ketika menghadiri acara tersebut, komunikasi dengan pihak penyelenggara berlangsung lebih baik. Begitu mengetahui Ellyas akan datang, pihak panitia langsung memberikan arahan mengenai akses masuk dan memastikan ada orang yang siap membantu.

“Waktu acara Sabuk Emas Pattimura, saya telepon, mereka langsung tanggap. Mereka bilang, ‘merapat saja ke belakang, ke pintu belakang. Nanti sudah ada yang siap membantu mengangkat.’ Kalau komunikasinya seperti itu kan enak. Kita jadi tahu harus ke mana dan siapa yang membantu,” ujarnya.

Rina menegaskan, kekecewaan yang disampaikannya bukan karena dirinya atau Ellyas Pical menginginkan perlakuan istimewa.

Ia justru menilai persoalan tersebut lebih kepada bentuk perhatian dan kesiapan penyelenggara ketika mengundang seorang legenda tinju yang memiliki keterbatasan fisik.

“Harapan saya kalau mengundang orang-orang tinju seperti legenda, seperti Bung Elyas dan juara-juara dunia lainnya, tolong diperhatikan. Tolong diberikan ruang dan apresiasi yang layak,” kata Rina.

Menurut dia, kehadiran para legenda tinju dalam sebuah pertandingan bukan hanya sebagai tamu. Mereka juga dapat memberikan semangat kepada para petinju muda yang tengah membangun karier.

“Bung Eli ini sudah menjadi tokoh. Orang harus selalu menghargai, apalagi dalam keterbatasannya dia masih mau hadir. Itu luar biasa,” ujarnya.

Rina mengatakan, Ellyas Pical masih memiliki semangat besar untuk datang dan menyaksikan pertandingan tinju meskipun kondisi fisiknya tidak lagi seperti dahulu.

“Dia punya semangat untuk hadir di ring tinju. Dalam segala keterbatasannya, dia masih punya semangat. Dia selalu ingin hadir di acara tinju,” katanya.

Karena itu, menurut Rina, penyelenggara sebaiknya tidak melihat para legenda hanya sebagai teman sesama petinju.

“Memang mereka sesama petinju dan mungkin dianggap teman. Tetapi kehadiran dia sekarang berbeda dengan dulu. Dia mau hadir walaupun kondisinya serba terbatas. Jadi tolong diperhatikan,” ucapnya.

Rina juga mengungkapkan, Ellyas Pical datang dari kawasan Bintaro, Tangerang, menuju lokasi acara dengan membawa semangat untuk mendukung penyelenggaraan Sabuk Emas Kapolri 2026.

Menurutnya, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa Ellyas masih memiliki kepedulian besar terhadap olahraga yang telah membesarkan namanya.

“Kita kecewa karena kita juga datang dari jarak yang jauh. Bung Elyas tinggal di Bintaro, Tangerang, tetapi dia punya semangat untuk datang. Dia ingin hadir dan memberikan dukungan pada acara Sabuk Emas Kapolri,” ujar Rina.

Ia berharap penyelenggaraan event-event tinju profesional di Indonesia terus berkembang dan mampu melahirkan generasi baru yang kelak dapat meneruskan prestasi para legenda.

“Semoga acara-acara seperti ini terus diselenggarakan untuk mendapatkan bibit-bibit petinju baru yang bisa menggantikan Bung Elyas Pical,” katanya.

Namun, Rina berharap penyelenggaraan pertandingan ke depan dapat dikemas lebih profesional, termasuk dalam hal koordinasi terhadap para tamu undangan.

“Profesional itu artinya memperhitungkan segala sesuatunya dengan baik. Termasuk ketika mengundang legenda-legenda tinju, harus mempersiapkan panitia untuk menyambut mereka dan memberikan tempat terbaik,” tegasnya.

Bagi Rina, perhatian terhadap legenda bukan sekadar persoalan seremoni. Kehadiran mereka memiliki nilai penting bagi perkembangan olahraga tinju nasional.

“Mereka adalah orang-orang yang dapat memberikan dukungan kepada petinju-petinju muda di Tanah Air,” pungkasnya.

Keterangan Rina tersebut sekaligus menjadi klarifikasi atas persoalan yang terjadi saat kedatangan Ellyas Pical di acara Sabuk Emas Kapolri 2026.

Exit mobile version