Dari PPLP Manado ke Panggung Profesional, Aser Kewas Kumpulkan Sabuk Juara

JAKARTA — Matamediaonline.com| Bagi Aser Kewas, ring tinju bukan sekadar tempat menguji kekuatan dan kemampuan bertanding. Di atas ring, petinju berusia 25 tahun kelahiran Ambon yang besar di Manado itu menemukan jalan untuk mengubah kehidupannya sekaligus membanggakan keluarga.

Perjalanan Aser menuju jajaran petinju profesional papan atas Indonesia dibangun melalui proses panjang, disiplin, dan keberanian meninggalkan kampung halaman.

Ketertarikannya terhadap tinju mulai tumbuh ketika duduk di kelas 1 SMP dan diterima di Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) Manado.

Di lingkungan pembinaan atlet pelajar tersebut, Aser mulai mendapatkan dasar-dasar tinju secara serius. Dari masa SMP hingga menyelesaikan pendidikan SMA, ia terus mengasah kemampuan dan membangun mental sebagai seorang atlet.

Setelah lulus dari PPLP, Aser menghadapi persimpangan hidup.

Kesempatan kerja yang terbatas di daerah membuatnya memilih jalan yang tidak mudah. Ia memutuskan merantau ke Jakarta untuk melanjutkan karier sebagai petinju.

Langkah pertama Aser di ibu kota dimulai bersama Navas Boxing Gym di Kemayoran, Jakarta Pusat.

Selama kurang lebih empat tahun, ia menjalani latihan sekaligus membangun rekam jejak di dunia tinju profesional.

Kerja keras itu menghasilkan sejumlah pencapaian. Aser berhasil meraih dua kali gelar Juara Indonesia dan satu gelar Juara WBC.

Baca juga: Dari Samosir ke Jakarta, Nasip Siringoringo Menempa Mimpi di Atas Ring

Demi menjaga konsistensi karier dan mendapatkan tantangan baru, Aser kemudian memutuskan bergabung dengan Nelson Nainggolan Gym (NNG) di bawah naungan promotor Nelson Nainggolan. Keputusan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam kariernya.

Setahun di NNG, Tiga Sabuk Bergengsi

Dalam satu tahun bersama NNG, Aser menjalani lima pertarungan besar.

Bukan sekadar bertanding, ia berhasil mengubah setiap pertarungan menjadi kesempatan untuk menambah koleksi prestasi.

Baca juga: Cegah Api Kembali Berkobar, Satbrimob Polda Kalteng Intensifkan Pembasahan di Tanjung Taruna

Sejumlah sabuk bergengsi berhasil diraihnya, yakni:

  • Sabuk Juara Byon Combat
  • Sabuk Juara HSS (Holywings Sport Show)
  • Sabuk Juara WBA Asia (World Boxing Association Asia)

Aser mengaku bersyukur atas perjalanan yang dijalaninya bersama NNG.

“Di sasana yang sekarang, setelah masuk langsung main di Byon Combat dapat sabuk, lalu di HSS dapat sabuk, dan kemarin berhasil meraih Sabuk WBA Asia. Puji Tuhan, semua laga berjalan lancar,” ujar Aser kepada Matamediaonline.com. Kamis (8/10).

Rentetan kemenangan tersebut membuat nama Aser semakin diperhitungkan dalam persaingan tinju profesional nasional.

Namun, baginya, setiap sabuk yang diraih bukan sekadar simbol kemenangan.

Ada perjuangan panjang, latihan keras, serta dukungan keluarga di balik setiap pertarungan.

Dari Bayaran Bertanding untuk Membahagiakan Orang Tua

Karier yang semakin berkembang juga membawa perubahan dalam kehidupan Aser dan keluarganya.

Pada awalnya, keputusan Aser menjadi petinju profesional sempat membuat sang ibu khawatir. Risiko cedera dan kerasnya dunia tinju menjadi alasan utama kekhawatiran tersebut.

Aser kemudian berusaha membuktikan bahwa pilihannya tidak sia-sia.

Dari hasil pertandingan yang diperolehnya selama menjalani karier profesional, ia mulai memberikan hasil nyata kepada kedua orang tuanya di kampung halaman.

Bagi Aser, pencapaian tersebut menjadi bentuk nyata rasa terima kasih kepada orang tua yang selama ini memberikan dukungan dan doa.

Tinju akhirnya tidak hanya menjadi profesi. Bagi Aser, ring menjadi jalan untuk memperbaiki kehidupan keluarga.

Doa Orang Tua Jadi Kekuatan Sebelum Naik Ring

Meski telah mengantongi sejumlah gelar, Aser tetap menempatkan keluarga sebagai sumber kekuatan terbesar.

Setiap kali hendak bertanding, ia selalu meminta dukungan dan doa dari kedua orang tuanya di Manado.

Baginya, kemenangan di atas ring tidak akan memiliki arti yang sama tanpa restu keluarga.

“Buat Mama dan Papa, support dan doakan terus anakmu ini agar bisa menjadi juara yang lebih besar lagi, serta bisa terus membanggakan kedua orang tua dan seluruh keluarga besar yang ada di Manado maupun di Ambon,” tutur Aser.

Kini, setelah mengukir prestasi dari tingkat nasional hingga Asia, Aser Kewas belum ingin berhenti.

Sabuk-sabuk juara yang telah dikoleksinya justru menjadi pijakan untuk membidik panggung yang lebih besar.

Dari PPLP Manado, merantau ke Jakarta, menempa diri di berbagai sasana, hingga berdiri sebagai juara di sejumlah ajang bergengsi, perjalanan Aser menunjukkan bahwa sebuah mimpi membutuhkan keberanian untuk diperjuangkan.

Kini, tantangan berikutnya telah menanti: membawa nama Indonesia dan keluarganya lebih jauh ke panggung tinju internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *