JAKARTA – Matamediaonline.com| Perjalanan panjang dunia tinju profesional Indonesia menyimpan banyak kisah perjuangan para petarung yang pernah mengukir sejarah di atas ring. Salah satunya adalah H. Marasal Hutabarat, tokoh tinju senior sekaligus promotor yang pernah merasakan kerasnya persaingan tinju pada era 1970-an.
Marasal, yang kini mengamati perkembangan tinju profesional dari kursi roda, memiliki pengalaman panjang dalam dunia olahraga adu jotos. Ia bahkan pernah bertarung menghadapi legenda tinju Indonesia, Syamsul Anwar Harahap, pada era 1970-an.
Selain dikenal sebagai tokoh dan promotor tinju, Marasal juga merupakan salah satu pendiri Federasi Tinju Profesional Indonesia (FTPI).
Dalam perbincangannya dengan Matamediaonline.com, Marasal mengenang perjalanan hidupnya ketika merantau dari Pematang Siantar, Sumatera Utara, menuju Jakarta. Saat itu, ia hanya mengandalkan bakat dan tekad untuk menapaki jalan sebagai petinju.
Pengalaman panjang tersebut membuatnya memiliki perhatian khusus terhadap perkembangan tinju profesional di Tanah Air. Ia menilai, pembinaan olahraga tinju membutuhkan kebersamaan, komitmen, serta kepemimpinan yang mampu merangkul berbagai pihak.
Baca juga: Nasib Petinju Indonesia: Dari Panggung Dunia ke Pinggir Kehidupan
Marasal secara khusus menyampaikan apresiasi kepada FTPI di bawah kepemimpinan Ketua Umum Neneng A. Tuty, S.H., bersama Yance Rahayaan, S.Sos. Menurutnya, kegiatan dan penyelenggaraan pertandingan tinju profesional yang dilakukan FTPI melalui kerja sama dengan berbagai pihak merupakan langkah positif bagi perkembangan olahraga tersebut.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, TNI, Polri, hingga masyarakat dari beragam suku dan latar belakang dalam kepengurusan organisasi.
“Saya sudah lama mengenal Ibu Neneng A. Tuty dan Yance Rahayaan. Saya tahu kedua pribadi ini dalam organisasi olahraga keras ini selalu merangkul semua pihak. Sekalipun dalam organisasi setiap perbedaan pendapat dan like and dislike selalu ada,” ungkap Marasal kepada MataMediaOnline.com.
Menurut Marasal, sikap merangkul dan tidak memelihara permusuhan merupakan cerminan jiwa kesatria yang seharusnya tumbuh dalam olahraga.
“Baik Neneng maupun Yance selalu menunjukkan jiwa merangkul dan bukan pendendam, sesuai jiwa kesatria olahraga,” imbuhnya.
Ia menegaskan, membangun prestasi olahraga tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kebersamaan dan sosok pemimpin yang mampu menyatukan berbagai kepentingan tanpa membedakan kawan maupun pihak yang pernah memiliki perbedaan pandangan.
Bagi Marasal, semangat kebersamaan menjadi salah satu kunci untuk membangun prestasi dan melahirkan petinju-petinju Indonesia yang mampu menjadi juara.
Tidak hanya menyoroti kepemimpinan, Marasal juga memberikan perhatian terhadap pola kerja dan strategi pembinaan yang dijalankan FTPI.
Ia menilai pendekatan jemput bola yang dilakukan organisasi tersebut merupakan langkah tepat. Menurutnya, badan tinju profesional tidak seharusnya hanya menunggu promotor datang ketika pertandingan akan digelar, kemudian menjalankan fungsi pengawasan saat acara berlangsung.
Lebih dari itu, organisasi tinju profesional perlu aktif menjalankan fungsi pembinaan, pengawasan, dan pengendalian pertandingan.
Marasal menilai pola kerja proaktif tersebut penting agar organisasi tidak sekadar hadir ketika ada kegiatan pertandingan, tetapi juga ikut mengambil peran dalam membangun ekosistem tinju profesional secara berkelanjutan.
Ia pun berharap langkah FTPI di bawah kepemimpinan Neneng A. Tuty dan Yance Rahayaan mendapat dukungan seluruh pemangku kepentingan serta pelaku tinju profesional di Indonesia.
Bagi seorang petinju yang pernah merasakan kerasnya pertarungan di atas ring, prestasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan atlet menghadapi lawan. Dukungan organisasi, kepemimpinan yang terbuka, pembinaan yang konsisten, dan persatuan seluruh elemen tinju juga menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju kejayaan.
Kini, meski tidak lagi berada di atas ring, Marasal Hutabarat tetap mengikuti perkembangan tinju profesional Indonesia. Pengalamannya menjadi pengingat bahwa membangun prestasi olahraga membutuhkan perjuangan lintas generasi, bukan sekadar kemenangan dalam satu pertandingan.
