Setabah Ombak Mengikis Karang

Rubrik Pojok Opini

Matamediaonline.com – Di tengah tekanan ekonomi yang kian terasa, harga kebutuhan pokok yang terus merangkak, lapangan kerja yang tak selalu ramah, serta ketimpangan sosial yang belum sepenuhnya teratasi, masyarakat kerap dihadapkan pada satu godaan besar: keinginan akan perubahan yang serba cepat. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa perubahan sejarah menunjukkan bahwa perubahan yang kokoh jarang lahir dari jalan pintas.

Ungkapan “Setabah Ombak Mengikis Karang” menjadi relevan dalam situasi hari ini. Ia mengingatkan bahwa kekuatan sejati tidak selalu hadir dalam gebrakan dramatis, melainkan dalam konsistensi yang terus dijaga, bahkan ketika hasil belum tampak.

Ombak tidak pernah terlihat lebih kuat daripada karang. Setiap kali menghantam, ia pecah dan seolah kalah. Namun ombak tidak pernah berhenti datang. Dari pengulangan itulah, karang yang keras perlahan terkikis. Proses ini nyaris tak terlihat, tetapi dampaknya nyata. Inilah metafora yang tepat untuk menggambarkan perjuangan masyarakat menghadapi struktur sosial dan ekonomi yang kerap terasa tak bergeming.

Dalam realitas hari ini, banyak warga bekerja lebih keras hanya untuk mempertahankan kualitas hidup yang sama. Usaha kecil bertahan di tengah kenaikan biaya produksi. Pekerja informal berjuang tanpa jaring pengaman memadai. Di sisi lain, tuntutan efisiensi dan percepatan sering kali tidak diimbangi dengan perlindungan yang cukup. Situasi ini memicu frustrasi kolektif, sekaligus kelelahan sosial.

Di sinilah makna kesabaran kerap disalahpahami. Kesabaran bukanlah kepasrahan, apalagi pembenaran atas ketidakadilan. Kesabaran adalah sikap aktif untuk tetap berdiri, tetap bersuara, dan tetap bekerja—meski perubahan belum datang secepat yang diharapkan. Ketekunan bukan sekadar mengulang rutinitas, melainkan keberanian untuk terus memperjuangkan ruang yang adil, hari demi hari.

Filosofi ini tercermin dalam motif tradisional Banjar Ombak Sinapur Karang, simbol ketahanan manusia menghadapi kerasnya hidup. Ia mengajarkan bahwa daya tahan bukan berarti meniadakan luka, tetapi kemampuan untuk tidak runtuh oleh tekanan yang berulang. Dalam konteks sosial hari ini, nilai ini menjadi penting ketika kepercayaan publik terhadap institusi sering diuji, dan harapan kerap bergeser menjadi skeptisisme.

Baik dalam perjuangan ekonomi, advokasi sosial, maupun penegakan hukum, kebenaran tidak selalu diakui dengan cepat. Mereka yang bersuara sering dianggap terlalu sabar atau terlalu lamban. Padahal, justru ketekunan itulah yang menjaga agar perubahan tidak rapuh dan bersifat sementara.

Sejarah tidak banyak mencatat mereka yang sekadar keras dan meledak-ledak. Ia lebih sering mengingat mereka yang bertahan—yang terus datang seperti ombak, meski berulang kali pecah di hadapan karang kekuasaan, ketimpangan, dan kepentingan.

Pada akhirnya, perubahan bukan ditentukan oleh seberapa keras kita menghantam, melainkan oleh kesediaan untuk tidak berhenti datang. Setabah ombak, yang mungkin tak terlihat menang hari ini, tetapi pasti meninggalkan jejak pada esok hari.

Oleh: Asido Rohana Nadeak

Exit mobile version