Lebaran Hijau: Memaknai Fitrah Lewat Kepedulian pada Bumi

Oleh: Ketua Umum Jarnas Pemuda Hijau Indonesia, Letkol. Inf (Purn). G. Borlak, S.Sos, M.M.

Gema takbir yang mengiringi Idul Fitri selalu menjadi penanda kemenangan spiritual umat manusia setelah menjalani bulan Ramadan. Lebaran dimaknai sebagai momentum kembali kepada fitrah—kesucian jiwa yang bersih dari dosa dan penuh keikhlasan.

Namun di balik euforia mudik, silaturahmi, dan perayaan, ada satu dimensi yang kerap luput dari perhatian: relasi manusia dengan alam.

Dalam ajaran spiritual, keseimbangan tidak hanya mencakup hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama, tetapi juga dengan lingkungan. Ironisnya, perayaan Lebaran justru kerap diiringi lonjakan konsumsi yang menghasilkan peningkatan sampah, mulai dari plastik sekali pakai hingga limbah makanan.

Pertanyaannya, apakah kita benar-benar kembali kepada fitrah jika perayaan kita justru meninggalkan jejak kerusakan bagi bumi?

Di sinilah konsep kesalehan ekologis menjadi relevan. Kesalehan tidak hanya berhenti pada ritual, tetapi harus terwujud dalam tindakan nyata menjaga kelestarian alam. Ketahanan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari aspek ekonomi dan keamanan, tetapi juga dari ketahanan ekologisnya.

Melalui Jaringan Nasional Pemuda Hijau Indonesia, dorongan untuk menjadikan momen keagamaan sebagai gerakan cinta lingkungan terus digaungkan. Konsep “Lebaran Hijau” hadir sebagai upaya menyelaraskan nilai spiritual dengan tanggung jawab ekologis.

Langkah sederhana bisa dimulai dari:

  • Mengurangi konsumsi berlebih dan sampah makanan
  • Menghindari penggunaan plastik sekali pakai
  • Menjadikan silaturahmi sebagai momentum menanam pohon

Bayangkan jika setiap keluarga menanam satu pohon saat Lebaran. Dalam beberapa tahun, gerakan kecil ini akan menjadi kekuatan besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Peran pemuda menjadi kunci dalam perubahan ini. Dengan literasi dan kesadaran ekologis yang kuat, generasi muda dapat menjadi agen perubahan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Pada akhirnya, fitrah tidak hanya tercermin dari hati yang bersih, tetapi juga dari lingkungan yang kita jaga. Lebaran seharusnya menjadi momentum untuk merawat keduanya secara bersamaan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mari kita jaga fitrah jiwa, sekaligus menjaga fitrah bumi.

Exit mobile version